Panduan Memilih Bibit Kambing yang Sehat untuk Pemula
Memulai usaha ternak kambing sering kali terlihat sederhana. Kandang disiapkan, pakan dicari, kemudian membeli beberapa ekor kambing untuk dipelihara.
Namun, salah satu keputusan yang paling menentukan keberhasilan usaha justru terjadi sebelum kambing masuk kandang, yaitu memilih bibit yang tepat.
Bibit yang sehat, memiliki pertumbuhan baik, struktur tubuh normal, dan potensi reproduksi sesuai tujuan usaha akan lebih mudah dikembangkan dibandingkan ternak yang sejak awal memiliki masalah kesehatan, cacat fisik, atau kualitas reproduksi yang buruk.
Kementerian Pertanian juga menempatkan pemilihan bibit sebagai salah satu faktor penting dalam pengembangan usaha kambing dan domba. Pedoman pembibitan menekankan pentingnya kesesuaian bibit dengan persyaratan mutu serta kesehatan hewan.
Bagi pemula, persoalannya adalah bagaimana membedakan kambing yang benar-benar layak dijadikan bibit dengan kambing yang sekadar terlihat besar atau menarik.
Artikel ini membahas langkah tersebut secara sistematis, mulai dari menentukan tujuan usaha, memeriksa kesehatan, melihat struktur tubuh, memeriksa gigi dan kaki, mengevaluasi calon induk dan pejantan, sampai melakukan pemeriksaan sebelum transaksi.
1. Jangan Membeli Bibit Sebelum Menentukan Tujuan Ternak
Kesalahan pertama peternak pemula adalah membeli kambing terlebih dahulu kemudian baru menentukan akan digunakan untuk apa.
Padahal, kriteria kambing yang ideal sangat bergantung pada tujuan pemeliharaan.
Secara sederhana, usaha kambing dapat dibagi menjadi:
Penggemukan
Pembibitan
Produksi susu
Pembibitan sekaligus penggemukan
Produksi kambing untuk kebutuhan tertentu
Kambing pedaging tidak harus memiliki karakter yang sama dengan calon induk perah.
Begitu juga pejantan untuk pembibitan membutuhkan pemeriksaan organ reproduksi yang berbeda dari kambing yang hanya akan digemukkan.
Karena itu, sebelum mencari kambing, tentukan:
“Saya membeli kambing ini untuk menghasilkan apa?”
Setelah tujuan jelas, barulah kriteria bibit dapat ditentukan.
2. Memahami Perbedaan “Bibit” dan “Kambing untuk Digemukkan”
Ini juga penting.
Tidak semua kambing yang dijual otomatis merupakan bibit.
Kambing untuk penggemukan terutama dinilai berdasarkan:
Sedangkan kambing untuk pembibitan harus mendapat perhatian tambahan pada:
Pedoman pemerintah juga menekankan bahwa bibit harus memenuhi persyaratan mutu dan kesehatan yang sesuai dengan jenis/rumpunnya.
Jadi, kambing besar belum tentu bibit unggul.
3. Pilih Bangsa atau Rumpun Sesuai Tujuan
Sebelum melihat kambing secara fisik, tentukan terlebih dahulu rumpun yang sesuai dengan sistem usaha.
Beberapa tipe kambing yang umum dijumpai antara lain:
Karakteristik setiap rumpun berbeda.
Misalnya, kambing Boerka banyak dikembangkan sebagai kambing pedaging, sedangkan PE, Saanen, dan Sapera dapat dipelihara untuk tujuan yang berkaitan dengan produksi susu atau pembibitan sesuai sistem pemeliharaannya. BRMP Ruminansia Kecil saat ini juga menyediakan berbagai kategori bibit kambing berdasarkan rumpun dan umur, termasuk Boerka, kambing lokal, Saanen, Sapera, dan PE.
Jangan membeli kambing hanya karena:
“Bentuknya bagus.”
Tanyakan:
“Apakah karakter kambing ini sesuai dengan tujuan usaha saya?”
4. Ciri Pertama yang Harus Diperiksa: Kesehatan
Kesehatan adalah prioritas sebelum ukuran tubuh, warna bulu, bentuk tanduk, maupun harga.
Kementerian Pertanian dalam kriteria bibit kambing Kacang dan PE menempatkan kondisi sehat serta bebas dari penyakit hewan menular strategis sebagai persyaratan umum.
Saat datang ke lokasi penjual, jangan langsung menawar.
Amati kambing selama beberapa menit.
Kambing yang sehat umumnya menunjukkan:
aktif,
responsif terhadap lingkungan,
berdiri dan berjalan normal,
nafsu makan baik,
tidak terlihat sangat lemah,
bulu relatif bersih,
tidak menunjukkan gangguan pernapasan yang jelas,
tidak mengalami diare,
dan tidak menunjukkan kelainan fisik yang nyata.
Sebaliknya, berhati-hatilah jika kambing:
5. Periksa Mata
Mata dapat memberikan gambaran awal kondisi kesehatan.
Perhatikan:
Jangan menjadikan warna mata sebagai satu-satunya indikator kesehatan.
Pemeriksaan mata hanya bagian dari pemeriksaan fisik secara keseluruhan.
Jika terdapat kelainan yang mencurigakan, lebih baik meminta pemeriksaan tenaga kesehatan hewan.
6. Periksa Hidung dan Pernapasan
Perhatikan apakah kambing:
Jangan membeli hanya karena kambing terlihat gemuk apabila terdapat tanda penyakit yang belum jelas.
Kambing yang tampak besar tetapi mengalami gangguan kesehatan dapat menimbulkan biaya pengobatan dan perawatan setelah dibawa pulang.
7. Periksa Mulut dan Gigi
Gigi sangat penting terutama ketika Anda ingin memperkirakan umur kambing.
Umur kambing dapat diperkirakan melalui perubahan gigi seri permanen.
Pada standar kambing Kacang, misalnya, satu pasang gigi seri permanen berkaitan dengan kisaran umur sekitar 12–18 bulan, sedangkan dua pasang menunjukkan kisaran lebih dari 18–24 bulan.
Namun, untuk transaksi bernilai besar, jangan hanya mengandalkan perkiraan visual.
Jika tersedia:
Mengapa umur penting?
Karena umur berpengaruh terhadap:
8. Perhatikan Kondisi Gigi, Bukan Hanya Jumlahnya
Gigi yang bermasalah dapat mengganggu kemampuan kambing memanfaatkan pakan.
Dalam seleksi kambing, struktur mulut yang normal merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan. Panduan seleksi kambing dari extension service juga menekankan kesesuaian gigi dengan bantalan gigi dan menghindari kelainan seperti monkey mouth atau parrot mouth.
Untuk peternak pemula:
Jika bentuk rahang terlihat tidak normal atau kambing kesulitan makan, jangan menganggapnya sebagai masalah kecil.
9. Periksa Nafsu Makan
Tanyakan kepada penjual:
pakan apa yang diberikan?
berapa kali sehari?
apakah kambing sedang dalam pengobatan?
apakah baru saja dipindahkan?
apakah nafsu makan normal?
Jika memungkinkan, amati kambing saat diberi pakan.
Kambing yang sehat umumnya menunjukkan respons makan yang baik.
Namun, perlu diingat bahwa kambing yang baru mengalami transportasi dapat mengalami stres sehingga perilaku makan sementara dapat berubah.
Karena itu, jangan mengambil keputusan berdasarkan satu indikator saja.
10. Periksa Bulu dan Kulit
Bulu kambing yang sehat umumnya terlihat:
Periksa apakah terdapat:
luka,
koreng,
kebotakan,
benjolan,
parasit eksternal,
atau iritasi.
Pada beberapa rumpun, karakter bulu memang berbeda.
Karena itu, jangan menilai kesehatan hanya berdasarkan panjang atau warna bulu.
Yang lebih penting adalah apakah kondisi bulu dan kulit sesuai dengan karakter rumpun serta tidak menunjukkan masalah kesehatan.
11. Periksa Kaki dan Kuku
Kaki merupakan bagian yang sangat penting tetapi sering diabaikan.
Kambing bibit sebaiknya memiliki:
Materi Kementerian Pertanian mengenai seleksi bibit juga menekankan kaki yang lurus, kuat, serta kondisi tapak/kuku yang normal pada calon pejantan.
Mengapa kaki penting?
Karena kambing yang digunakan untuk pembibitan akan:
Kelainan kaki dapat mengganggu produktivitas.
12. Jangan Tertipu Kambing yang Terlihat Sangat Gemuk
Kambing gemuk belum tentu bibit terbaik.
Ada perbedaan antara:
kondisi tubuh baik
dan
kegemukan berlebihan.
Calon induk sebaiknya memiliki kondisi tubuh yang cukup, tetapi tidak terlalu gemuk.
Materi BRMP Ruminansia Kecil juga menyebutkan bahwa calon betina yang baik berada dalam kondisi sehat dan tidak terlalu gemuk.
Untuk peternak pemula, gunakan prinsip:
Sehat + proporsional + aktif lebih penting daripada sekadar gemuk.
13. Periksa Bentuk Tubuh Secara Keseluruhan
Lihat kambing dari:
depan,
samping,
dan belakang.
Perhatikan apakah tubuh terlihat proporsional.
Calon bibit yang baik umumnya memiliki:
badan relatif panjang,
dada cukup dalam dan lebar,
punggung sesuai karakter rumpun,
kaki kuat,
dan tidak memiliki kelainan bentuk yang nyata.
Pada materi Kementerian Pertanian mengenai calon pejantan, tubuh besar dan sehat, badan panjang, dada dalam/lebar, serta kaki lurus dan kuat termasuk karakter yang diperhatikan.
14. Jangan Menggunakan Ukuran Tubuh Secara Sembarangan
Ini penting.
Tinggi badan, panjang badan, dan lingkar dada memiliki standar yang berbeda menurut rumpun dan umur.
Sebagai contoh, SNI kambing Kacang menetapkan persyaratan ukuran minimum tertentu berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin.
Sementara persyaratan kambing PE memiliki karakteristik ukuran dan bentuk yang berbeda.
Jadi jangan menggunakan rumus:
“Kalau tinggi sekian berarti kambing bagus.”
Yang benar:
Bandingkan ukuran dengan standar rumpun dan umur yang sesuai.
15. Periksa Calon Induk Betina
Jika tujuan Anda adalah pembibitan, calon betina harus mendapat perhatian khusus.
Beberapa hal yang diperiksa:
Kesehatan
Tidak menunjukkan tanda penyakit.
Bentuk tubuh
Proporsional dan tidak cacat.
Kaki
Kuat dan normal.
Ambing
Normal dan simetris.
Puting
Normal dan berfungsi.
Riwayat reproduksi
Jika sudah pernah beranak, tanyakan:
berapa kali beranak,
jumlah anak,
apakah pernah mengalami keguguran,
apakah pernah mengalami masalah saat melahirkan,
dan bagaimana kondisi anak sebelumnya.
Untuk PE, pemerintah secara khusus mencantumkan ambing normal dan simetris sebagai persyaratan calon betina.
16. Pemeriksaan Ambing Sangat Penting
Untuk calon induk betina, jangan hanya melihat ukuran ambing.
Periksa:
Panduan seleksi kambing juga menekankan bahwa ambing sebaiknya memiliki dua bagian yang relatif seimbang dan struktur puting yang normal.
Jika calon induk memiliki ambing yang tidak normal, keputusan pembelian harus dipertimbangkan secara serius.
17. Periksa Puting
Untuk induk, puting harus diperiksa dengan teliti.
Perhatikan apakah:
Jangan memilih induk hanya karena tubuhnya besar apabila organ reproduksinya bermasalah.
18. Memilih Calon Pejantan
Pejantan mempunyai pengaruh genetik terhadap banyak keturunan.
Karena itu, pemilihan pejantan tidak boleh hanya berdasarkan ukuran tubuh.
Periksa:
kesehatan,
bentuk tubuh,
kaki,
libido,
organ reproduksi,
testis,
dan riwayat keturunan.
Materi Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa calon pejantan yang baik antara lain memiliki tubuh besar dan sehat, badan panjang, dada dalam/lebar, kaki lurus dan kuat, libido baik, serta testis normal.
19. Periksa Kedua Testis
Ini merupakan pemeriksaan yang sangat penting.
Pejantan sebaiknya memiliki:
Standar kambing Kacang juga memasukkan lingkar skrotum sebagai salah satu parameter kuantitatif pada pejantan.
Jika ada kelainan pada testis, jangan mengambil risiko untuk pembibitan sebelum diperiksa oleh tenaga kesehatan hewan.
20. Periksa Libido Pejantan
Pejantan yang besar belum tentu memiliki performa reproduksi yang baik.
Materi pemerintah mencantumkan libido dan kualitas semen sebagai bagian dari persyaratan calon pejantan pada standar tertentu.
Jika membeli pejantan yang sudah dewasa, tanyakan:
apakah sudah pernah mengawini betina,
apakah berhasil menghasilkan keturunan,
bagaimana riwayat reproduksinya.
Riwayat reproduksi jauh lebih informatif dibanding hanya melihat tanduk atau ukuran badan.
21. Cari Informasi Silsilah
Jika memungkinkan, pilih bibit yang memiliki informasi asal-usul.
Catatan yang berguna antara lain:
induk jantan,
induk betina,
tanggal lahir,
jumlah kelahiran,
jumlah anak,
bobot lahir,
pertumbuhan,
dan riwayat kesehatan.
Dalam program pembibitan, recording sangat penting karena membantu peternak melakukan seleksi berdasarkan data, bukan sekadar penampilan.
22. Keturunan Kembar Bisa Menjadi Informasi Pendukung
Pada beberapa panduan pembibitan kambing, keturunan kembar menjadi salah satu karakter yang diperhatikan terutama untuk calon induk. Pemerintah juga mencantumkan riwayat keturunan sebagai bagian dari pertimbangan seleksi pada materi pembibitan tertentu.
Namun, jangan menyederhanakannya menjadi:
“Kambing lahir kembar = pasti bibit unggul.”
Keturunan hanya salah satu informasi.
Tetap harus dilihat:
23. Periksa Riwayat Penyakit
Tanyakan kepada penjual:
apakah kambing pernah sakit?
apakah pernah mengalami diare berulang?
apakah pernah mengalami masalah pernapasan?
apakah pernah mengalami penyakit kulit?
apakah pernah mengalami keguguran?
apakah sedang diberi obat?
kapan terakhir diberi obat cacing?
apakah sudah divaksinasi sesuai program daerah?
Jawaban penjual tidak menggantikan pemeriksaan dokter hewan, tetapi dapat membantu Anda menentukan pertanyaan lanjutan.
24. Minta Dokumen atau Keterangan Kesehatan Bila Diperlukan
Untuk transaksi biasa skala kecil, dokumen yang tersedia dapat berbeda-beda.
Namun, semakin besar nilai transaksi dan semakin penting tujuan pembibitan, semakin penting dokumentasi.
Untuk bibit yang benar-benar akan digunakan dalam program pembibitan, persyaratan kesehatan dan asal-usul perlu diperhatikan.
Kementerian Pertanian menekankan pentingnya persyaratan kesehatan hewan dalam pembibitan.
Jika ada keraguan, konsultasikan dengan dokter hewan atau petugas kesehatan hewan setempat sebelum transaksi.
25. Jangan Membeli Kambing yang Baru Saja Terlihat “Dipoles”
Ada kondisi ketika kambing terlihat sangat menarik karena baru diberi pakan, dimandikan, dicukur, atau ditempatkan di lingkungan berbeda.
Karena itu, jangan hanya melihat:
Lakukan pemeriksaan lebih menyeluruh.
Tanyakan kondisi kambing sebelum dijual.
26. Perhatikan Cara Kambing Berjalan
Minta penjual mengeluarkan kambing dari kandang.
Biarkan kambing berjalan beberapa meter.
Perhatikan:
apakah langkahnya normal,
apakah ada pincang,
apakah kaki depan dan belakang seimbang,
apakah kambing sulit berdiri,
dan apakah ada kelainan bentuk.
Cara ini lebih informatif daripada memeriksa kambing hanya ketika diam di kandang.
27. Lakukan Pemeriksaan dari Tiga Sisi
Gunakan metode sederhana:
Tampak depan
Periksa:
lebar dada,
posisi kaki,
kesimetrisan tubuh.
Tampak samping
Periksa:
panjang badan,
kedalaman dada,
punggung,
posisi kaki.
Tampak belakang
Periksa:
Metode sederhana ini membantu pemula mengurangi kesalahan penilaian.
28. Jangan Membeli Hanya Berdasarkan Harga Murah
Harga murah dapat terlihat menarik.
Namun, harga pembelian hanyalah sebagian dari biaya usaha.
Misalnya Anda membeli kambing:
Rp2.000.000
tetapi kambing tersebut:
Biaya akhirnya dapat jauh lebih besar.
Sebaliknya, bibit yang sedikit lebih mahal tetapi sehat dan sesuai tujuan usaha dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Yang harus dibandingkan adalah:
Harga pembelian vs potensi produktivitas dan risiko.
29. Gunakan Sistem Penilaian Sederhana
Untuk pemula, buat lembar pemeriksaan.
Contohnya:
| Parameter | Hasil Pemeriksaan |
|---|
| Aktif | Ya/Tidak |
| Nafsu makan | Baik/Kurang |
| Mata | Normal/Tidak |
| Pernapasan | Normal/Tidak |
| Bulu & kulit | Normal/Tidak |
| Kaki | Normal/Tidak |
| Kuku | Normal/Tidak |
| Gigi | Normal/Tidak |
| Bentuk tubuh | Proporsional/Tidak |
| Organ reproduksi | Normal/Tidak |
| Riwayat kesehatan | Ada/Tidak |
| Riwayat keturunan | Ada/Tidak |
| Umur | ... |
| Bobot | ... |
| Harga | ... |
Dengan cara ini, keputusan pembelian menjadi lebih objektif.
30. Gunakan Timbangan Jika Memungkinkan
Mata sering tertipu.
Kambing dengan bulu panjang atau bentuk tubuh tertentu dapat terlihat lebih besar daripada bobot sebenarnya.
Karena itu, jika memungkinkan gunakan:
Bobot dapat membantu:
menentukan harga berdasarkan bobot,
menghitung kebutuhan pakan,
memantau pertumbuhan,
dan mengevaluasi performa.
31. Perhatikan Body Condition Score
Body Condition Score atau BCS digunakan untuk menilai kondisi cadangan tubuh ternak.
Secara sederhana, peternak dapat meraba:
tulang belakang,
tulang rusuk,
pinggang,
dan area pangkal ekor.
Tujuannya bukan mencari kambing yang paling gemuk, melainkan kambing dengan kondisi tubuh yang sesuai dengan tujuan dan fase produksinya.
Kondisi terlalu kurus maupun terlalu gemuk sama-sama dapat menjadi masalah.
32. Jangan Abaikan Kualitas Pakan dari Peternak Asal
Tanyakan:
“Selama ini kambing diberi makan apa?”
Misalnya kambing terbiasa dengan:
rumput,
leguminosa,
daun pohon tertentu,
silase,
konsentrat,
atau campuran.
Informasi ini penting ketika kambing dipindahkan.
Perubahan pakan yang terlalu mendadak dapat mengganggu adaptasi sistem pencernaan.
33. Jangan Langsung Dicampur dengan Kambing Lama
Setelah membeli bibit baru, jangan langsung mencampurnya dengan seluruh populasi.
Lakukan karantina atau pemisahan sementara sesuai kondisi dan arahan tenaga kesehatan hewan.
Tujuannya untuk:
Durasi serta prosedur karantina idealnya disesuaikan dengan kondisi ternak dan risiko penyakit di daerah setempat.
34. Kesalahan Pemula yang Paling Sering Terjadi
1. Membeli berdasarkan warna bulu
Warna bulu bukan indikator utama produktivitas.
2. Membeli berdasarkan ukuran badan saja
Besar belum tentu sehat atau produktif.
3. Tidak memeriksa kaki
Padahal kaki merupakan fondasi aktivitas ternak.
4. Tidak memeriksa gigi
Akibatnya umur dan kemampuan makan salah diperkirakan.
5. Tidak memeriksa organ reproduksi
Sangat berisiko untuk usaha pembibitan.
6. Tidak bertanya tentang asal-usul
Padahal recording dapat membantu seleksi.
7. Tidak menghitung biaya setelah pembelian
Bibit murah tetapi sering sakit bisa menjadi mahal.
8. Langsung mencampur ternak baru
Berpotensi meningkatkan risiko penyakit dalam kandang.
35. Checklist Sebelum Membayar
Sebelum uang diserahkan, lakukan pemeriksaan terakhir:
✓ Tujuan pemeliharaan sudah sesuai
✓ Bangsa/rumpun sudah diketahui
✓ Umur diketahui
✓ Bobot diketahui
✓ Kambing aktif
✓ Nafsu makan baik
✓ Mata dan hidung normal
✓ Tidak ada tanda penyakit yang mencurigakan
✓ Kaki normal
✓ Kuku tidak bermasalah
✓ Tidak ada cacat fisik
✓ Gigi sesuai perkiraan umur
✓ Organ reproduksi normal
✓ Riwayat kesehatan diketahui
✓ Asal-usul/recording tersedia bila diperlukan
✓ Harga sesuai kondisi ternak
Jika beberapa poin penting tidak terpenuhi, jangan terburu-buru melakukan transaksi.
36. Contoh Seleksi Calon Induk Betina
Misalnya Anda ingin membeli kambing betina untuk pembibitan.
Prioritas pemeriksaan:
1. Kesehatan
↓
2. Tidak cacat
↓
3. Kaki dan kuku normal
↓
4. Kondisi tubuh proporsional
↓
5. Gigi sesuai umur
↓
6. Ambing dan puting normal
↓
7. Riwayat reproduksi baik
↓
8. Riwayat keturunan
↓
9. Ukuran sesuai standar rumpun dan umur
↓
10. Harga sesuai kualitas
Urutan ini jauh lebih aman daripada memilih hanya berdasarkan penampilan.
37. Contoh Seleksi Calon Pejantan
Untuk pejantan:
Kesehatan
→ struktur tubuh
→ kaki
→ gigi/umur
→ testis
→ libido
→ riwayat reproduksi
→ keturunan
→ kesesuaian dengan rumpun
→ harga
Pejantan memiliki dampak genetik yang luas karena satu pejantan dapat digunakan untuk banyak betina.
Karena itu, kualitas pejantan sebaiknya tidak dikompromikan hanya demi menghemat biaya pembelian.
38. Mana yang Lebih Penting: Ras atau Kesehatan?
Bagi peternak pemula, jangan terjebak pada nama ras.
Kambing dari rumpun terkenal tetapi sakit atau tidak sesuai lingkungan belum tentu menjadi pilihan yang tepat.
Sebaliknya, kambing lokal yang sehat, adaptif, dan sesuai dengan tujuan usaha dapat menjadi pilihan yang rasional.
Kambing Kacang, misalnya, merupakan rumpun lokal Indonesia yang tersebar luas dan dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi pemeliharaan.
Jadi prinsipnya:
Rumpun menentukan potensi, tetapi kesehatan, manajemen, lingkungan, dan kualitas pemeliharaan menentukan bagaimana potensi tersebut diwujudkan.
39. Bibit Bagus Tetap Membutuhkan Manajemen yang Bagus
Bibit bukan satu-satunya faktor keberhasilan.
Produktivitas kambing juga dipengaruhi oleh:
Breeding
Kualitas genetik dan seleksi.
Feeding
Kualitas serta kecukupan pakan.
Management
Kandang, kebersihan, pencatatan, dan pemeliharaan.
Health
Pencegahan dan pengendalian penyakit.
Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan Good Farming Practices, yang menempatkan breeding, feeding, dan management sebagai bagian penting dalam peningkatan produktivitas ternak.
40. Kesimpulan
Memilih bibit kambing yang sehat tidak cukup dilakukan dengan melihat:
“Kambing mana yang paling besar?”
Peternak perlu melihat kambing secara menyeluruh.
Bibit yang baik untuk pemula sebaiknya:
sehat,
aktif,
tidak cacat,
memiliki kaki dan kuku normal,
tubuh proporsional,
memiliki gigi sesuai umur,
sesuai dengan rumpun dan tujuan usaha,
memiliki organ reproduksi normal,
serta, jika memungkinkan, memiliki riwayat kesehatan dan keturunan yang jelas.
Untuk calon induk betina, ambing dan puting harus diperiksa secara khusus. Untuk calon pejantan, testis, libido, dan riwayat reproduksi menjadi bagian penting dalam seleksi. Kementerian Pertanian juga menggunakan persyaratan kesehatan, bebas cacat, serta kondisi organ reproduksi sebagai bagian dari standar bibit pada beberapa rumpun kambing.
Yang tidak kalah penting, ukuran tubuh harus dibandingkan dengan standar rumpun dan umur, bukan menggunakan satu ukuran yang dianggap berlaku untuk semua kambing.
Pada akhirnya, membeli bibit bukan sekadar transaksi membeli hewan.
Anda sedang membeli potensi pertumbuhan, reproduksi, dan produktivitas untuk beberapa tahun ke depan.
Karena itu, lebih baik menghabiskan waktu satu jam untuk memeriksa calon bibit dengan teliti daripada menghabiskan berbulan-bulan memperbaiki kesalahan akibat salah memilih ternak.